Copyright © Sbobet 2020.
All Rights Reserved.

Kerusuhan Sepak bola

Kerusuhan Sepak bola - Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang menyajikan permainan indah di setiap pertandingannya. Para seniman lapangan hijau (sebutan pemain Sepak bola) tidak pernah kehabisan akal untuk memberikan tontonan yang sangat menarik untuk di lihat.

Sepak bola juga yang membuat beberapa pihak konflik menjadi damai, seperti kasus di Nigeria. Negara tersebut pernah terjadi perang saudara pada tanggal 6 Juli 1967. Perang saudara Nigeria atau yang lebih dikenal dengan sebutan Perang Biafra ini telah menelan banyak korban.

Namun uniknya pada tahun 1969, perang tersebut sempat berhenti selama 48 jam atau dua hari.

Sepak bola lah yang membuat perang tersebut terhenti sejenak, dan aktor di balik peristiwa tersebut ialah Pele. Kedua belah pihak sepakat untuk menyampingkan kepentingan politik agar rakyat Nigeria dapat melihat Sang Maestro Sepak bola tersebut,

Tapi, tahukah kamu bahwa dunia Sepak bola tidak melulu tentang kedamaian. Beberapa pertandingan juga terkadang membuat pertikaian antara kedua belah pihak.

Berikut ini olahraganesia akan memberikan informasi mengenai kerusuhan yang pernah terjadi di dunia Sepak bola baik luar maupun dalam negeri.

Sebelum lanjut, coba simak vidio ini.

10 Kerusuhan Dalam Sepak Bola

Tak jarang dunia Sepak bola yang indah ini harus di nodai dengan beberapa aksi oknum yang tidak bertanggung jawab. Banyak pertikaian atau kerusuhan yang terjadi baik di dalam maupun luar lapangan.

Sangat disayangkan sekali, para pecinta Sepak bola harus melihat pemandangan yang tidak baik atas kerusuhan-kerusuhan yang terjadi.

Terkadang hanya hal sepele kedua belah pihak bisa bertikai. Pihak-pihak yang bertikai juga bisa berasal dari kelompok suporter atau bahkan dari pemain Sepak bola itu sendiri.

Berikut ini beberapa kerusuhan yang pernah terjadi di dunia Sepak bola.

Kerusuhan Sepak Bola Dunia

Sampai saat ini sudah banyak kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di Sepak bola dunia. Tentunya kita masih ingat dengan “Tragedi Maracana”. Tragedi yang terjadi di Brasil ini sudah banyak sekali menelan korban.

Brasil yang sudah digadang-gadang menjadi juara dunia tersebut tiba-tiba kalah di tangan Uruguay. Akhirnya banyak warga Brasil yang menonton kecewa, bahkan sampai ada yang terkena serangan jantung pada saat itu.

Namun itu bukanlah satu-satunya kerusuhan yang pernah terjadi di dunia Sepak bola. Berikut ini 10 kerusuhan yang selalu di kenang oleh pecinta sepak bola dunia dan Indonesia versi olahraganesia.

5. Kerusuhan Mesir Februari 2012

Kerusuhan terhebat sepanjang sejarah sepak bola Mesir ini telah menelan korban jiwa sebanyak 73 orang dan sekitar 1.000 orang lainnya luka-luka. Kerusuhan yang terjadi akibat perbuatan suporter Al-Masry ini sangat mencoreng nama baik perSepak bolaan Mesir.

Sebenarnya sebelum dimulai juga banyak suporter Al-Masry yang berada di lapangan, sehingga pertandingan sempat tertunda selama 30 menit. Kemudian setelah gol ketiga Al-Masry di cetak para penonton menyerbu lapangan, hingga puncaknya di akhir pertandingan ribuan suporter masuk ke dalam Lapangan Stadion Port Said.

Suporter Al-Masry yang sudah memegang senjata pun menyerang para suporter, pemain, hingga staff Al-Ahly. Bahkan Manuel Jose pelatih Al-Ahly ditendang dan ditinju oleh suporter Al-Masry setelah ia tidak dapat kembali ke ruang ganti.

Dampak dari insiden ini beberapa pemain Al-Ahly seperti Mohammed Aboutrika, Mohamed Barakat, dan Emad Motaeb pensiun dari dunia Sepak bola. Dan juga sang pelatih Manuel Jose yang tidak melatih lagi atas insiden berdarah tersebut.

Baca Juga: 13 Akademi Terbaik Sepak Bola Dunia

4. Kerusuhan Rusia Oktober 1982

Kerusuhan yang dikenal dengan “Tragedi Luzhniki” ini terjadi saat pertandingan antara Spartak Moskow melawan HFC Haarlem pada lanjutan Piala UEFA 1982/1983.

Sebenarnya tragedi ini terjadi karena hal sepele, dimana hal tersebut dikarenakan seorang wanita yang mengambil sepatunya yang terjatuh dari tangga, sehingga antrian orang dibelakangnya ikut terhenti karena menolong wanita tersebut.

Namun area tangga yang dalam kondisi ramai dan juga tidak kuatnya pembatas besi menahan beban, sehingga orang-orang yang ada disana pun terjatuh.

Diperkirakan tragedi ini telah menelan korban jiwa sebanyak 66 orang, tapi perhitungan lain menyebutkan bahwa korban yang meninggao mencapai 340 orang.

3. Kerusuhan Afrika Selatan Januari 1991

Tragedi berdarah paling kelam di Afrika Selatan ini telah menelan korban jiwa sebanyak 42 orang. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 13 Januari 1991 ini berlangsung di stadion Oppenheimer di Orkney yang tengah melangsungkan pertandingan antara Kaizar Chiefs dan Orlando Pirates.

Kerusuhan Sepak bola ini terjadi diawali saat pemain Kaizar Chiefs berhasil mencetak gol ke gawang Orlando Pirates.

Membuat kedua pendukung saling ejek dan saling lempar benda keras seperti batu. Stadion yang berkapasitas 25 ribu penonton juga over capacity, yang menurut beberapa sumber penonton pada pertandingan tersebut mencapai 30 ribu penonton.

Kelalaian pihak penyelenggara di tuding sebagai penyebabnya, karena tidak memisahkan tempat duduk antara dua kelompok suporter rival tersebut.

Bahkan sepuluh tahun kemudian, pertikaian antar dua kelompok tersebut terjadi lagi. Kerusuhan tersebut terjadi di Johannes Ellis Park Stadium dan korban jiwa pun meningkat menjadi 43 orang.

2. Kerusuhan Inggris April 1989

Inggris yang kita kenal sebagai negara yang cinta damai dalam hal Sepak bola ternyata juga pernah terjadi kerusuhan. Kerusuhan tersebut terjadi pada bulan April 1989 dimana pada saat itu sedang dilangsungkan pertandingan antara Liverpool melawan Nottingham Forest.

Kerusuhan ini juga dikenal sebagai tragedi Hillsborough, menjadi tragedi kedua yang melibatkan Liverpool setelah tragedi Heysel 1985.

Kerusuhan ini disebabkan kelalaian polisi dan kesalahan pemberitaan yang diberikan The Sun, sehingga membuat para fans Liverpool tersebut memboikot The Sun dengan slogan “Don’t Buy The Sun”.

Kerusuhan yang menyebabkan 95 orang meninggal dunia ini menarik simpati PM Inggris kala itu, yaitu David Cameron. Ia menyatakan permintaan maafnya kepada keluar korban atas tragedi Hillsborough tersebut.

1. Kerusuhan Ghana Mei 2001

Kerusuhan Sepak bola yang satu ini bisa dibilang sebagai kerusuhan terburuk dala dunia Sepak bola. Bagaimana tidak tragedi berdarah yang terjadi pada tanggal 9 Mei 2001 ini telah menelan korban jiwa sebanyak 126 orang dan ratusan lainnya luka-luka.

Kerusuhan terjadi pada saat-saat akhir pertandingan, keputusan wasit yang mengesahkan gol tuan rumah Accra Hearts of Oaks SC membuat suporter tim Kumasi Asante Kotoko mengamuk dan melempar serta membakar bangku stadion.

Polisi yang melihat kejadian tersebut langsung bertindak dengan menembakkan gas air mata ke arah tribun. Namun tindakkan tersebut malah memperkeruh suasana.

Para pendukung pun panik dan berusaha supaya keluar, namun usaha yang mereka lakukan sia-sia. Pintu stadion yang dikunci menyebabkan ratusan orang terinjak-injak dan bahkan banyak yang meninggal.

Kerusuhan Sepak Bola di Indonesia

Bukan hanya dibelahan dunia saja sering terjadi kerusuhan. Negara tercinta kita yang warganya sangat menggemari olahraga Sepak bola juga banyak kerusuhan-kerusuhan yang terjadi, entah itu kerusuhan antar suporter atau juga kerusuhan antar pemain.

Berikut ini olahraganesia akan menampilkan beberapa kerusuhan yang pernah terjadi dalam sejarah sepak bola Indonesia.

5. Kerusuhan Persija vs Persib 2012 (Jakarta)

Mungkin dapat dikatakan bahwa perseteruan antar dua kelompok suporter terbesar di Indonesia ini menjadi perseteruan yang sulit untuk di lupakan. The Jak Mania suporter Persija Jakarta dan Bobotoh atau Viking pendukung dari Persib Bandung merupakan dua kelompok suporter yang sering sekali bertikai.

Salah satu kerusuhan terhebat dua suporter ini ialah yang terjadi di Gelora Bung Karno pada tangga 27 Mei 2012. Dimana total ada 3 orang tewas akibat insiden tersebut.

Korban bernama Rangga salah satunya, pendukung Persib Bandung ini dikeroyok habis oleh suporter The Jak Mania diluar stadion.

Usut punya usut ternyata yang menyebabkan Rangga meninggal ialah, saat kapten Persib saat itu Maman Abdurrahman berhasil mencetak gol dan menyamakan kedudukan.

Rangga yang merupakan pendukung setia Persib reflek melompat senang karena gol tersebut. Tempat duduk Rangga yang dekat dengan The Jak pun membuat selebrasi Rangga tersebut terlihat oleh The Jak.

Akhirnya beberapa orang mendatangi Rangga dan beberapa temannya. Lalu ternyata teman-temannya Rangga berhasil kabur dari amukan suporter Persija, namun tidak dengan Rangga dia habis diseret dan di pukuli hingga tewas.

Info dari salah satu temannya Rangga, padahal pada saat pertandingan Rangga dan teman-temannya tidak memakai baju biru yang merupakan warna kebanggaan masyarakat Jawa Barat.

4. Kerusuhan Persis Solo vs Martapura FC 2014 (Solo)

Sikap fanatisme Sepak bola kembali menimbulkan kerusuhan dan menelan korban. Sepak bola yang harusnya dapat dinikmati dengan indah harus rusak oleh perbuatan beberapa oknum.

Salah satunya kerusuhan yang terjadi pada laga Persis Sola melawan Martapura FC yang berlangsung di Stadion Manahan Solo dalam lanjutan Divisi Utama 2014.

Kerusuhan ini pun telah menelan satu korban jiwa tanpa identitas. Kerusuhan yang disebabkan karena keputusan wasit Ahmad Jafri yang dinilai berat sebelah, membuat para suporter dan tim Persis Solo kecewa. Hingga membuat beberapa suporter berusaha masuk ke lapangan.

Kerusuhan ini pun menyebabkan bus pariwisata yang akan di naiki oleh pemain Martapura FC hancur karena dilempari batu oleh pendukung Persis Solo. Selain itu satu unit sepeda motor KLX milik Sabhara pun ludes terbakar.

Menurut Totok Supriyanto (Manajer Persis Solo), andaikan wasit dapat berlaku adil, maka kerusuhan tersebut tidak akan terjadi.

3. Kerusuhan Persita vs PSMS Medan 2017 (Cibinong)

Satu lagi kerusuhan suporter Indonesia yang menyebabkan satu orang tewas. Ya kerusuhan antar pendukung Persita Tangerang dengan pendukung dari PSMS Medan ini terjadi di Stadion Mini Persikabo, Bogor.

Sebenarnya tidak ada kerusuhan yang terjadi pada saat pertandingan. Namun setelah pertandingan, suporter Persita masuk ke lapangan melakukan aksi seperti demo kepada timnya akibat kekalahan dari PSMS Medan.

Kemudian para pendukung Laskar Cisadane tersebut menghampir pendukung PSMS Medan yang di dominasi oleh Militer milik Divisi 1 Kostrad Cilodong.

Entah apa maksud dari suporter Persita tersebut telah memancing emosi para pendukung PSMS tersebut. Hingga akhirnya terjadi kejar-kejaran antara dua pendukung tersebut sampai luar stadion.

Karena kejadian tersebut total ada satu korban tewas dan 17 orang luka-luka. Diketahui korban tewas tersebut bernama Banu Rusman yang merupakan pendukung dari tim Persita Tangerang.

2. Kerusuhan Persija vs Sriwijaya 2016 (Jakarta)

Kali ini kerusuhan yang terjadi antara The Jakmania dan aparat kepolisian. Pertandingan yang mempertemukan Persija Jakarta dan Sriwijaya FC ini harus dihentikan pada menit 81 dengan skor 1-0 untuk keunggulan Sriwijaya. Pertandingan yang dilaksanakan di Gelora Bung Karno ini terjadi pada tanggal 25 Juni 2016.

Alasan wasit Djumadi Effendi menghentikan pertandingan pun dikarenakan kondisi di stadion sudah tidak efektif, banyak suporter yang masuk ke lapangan.

Menurut salah satu sumber, kejadian ini diawali karena adanya satu suporter The Jak yang masuk ke lapangan, lalu suporter tersebut berhasil diamankan oleh aparat kepolisian.

Setelah itu gelombang suporter yang masuk pun datang dari arah tribun Timur. Aparat kepolisian yang kalah jumlah pun kesulitan menahan suporter tersebut, hingga akhirnya aparat meminta bantuan agar dapat bisa menahan amukan suporter Persija tersebut.

Diduga kerusuhan yang terjadi pada laga Persija Jakarta melawan Sriwijaya FC Palembang merupakan buntut dari kekecewaan The Jak atas meninggalnya Fahreza pada pertandingan Persija melawan Persela yang terjadi pada tanggal 13 Mei lalu.

1. Kerusuhan Persebaya vs Arema 2006 (Surabaya)

Ribuan Bonekmania pendukung Persebaya Surabaya mengamuk dengan membakar tiga unit mobil dan merusak fasilitas yang ada di Gelora 10 Nopember Surabaya usai laga Persebaya melawan Arema dalam lanjutan Copa Indonesia 2006.

Kerusuhan yang terjadi pada tanggal 3 September 2006 ini telah merusak dua unit mobil APV milik ANTV dan satu mini bus milik TVRI Surabaya.

Awal kerusuhan itu terjadi saat Arema unggul dan berusaha untuk menghabiskan waktu dengan bermain-main. Pada menit 85 bola yang dipegang oleh Ahmad Kurniawan tidak langsung ditendang, padahal wasit Jimmy Napitupulu sudah memberi aba-aba agar bola ditendang.

Akhirnya bola tersebut ditendang oleh Warsidi, pemain belakang Arema. Namun setelah menendang Warsidi terjatuh tanpa tahu apa sebabnya. Wasit pun menghentikan pertandingan.

Dan pada saat itulah beberapa koordinator suporter berlarian masuk ke dalam lapangan yang disebabkan karena mereka diserang oleh kelompok suporter yang tidak puas.

Tak berselang lama, suporter dari berbagai penjuru masuk dan membuat kerusuhan. Hingga membuat para wasit, pemain dan pelatih lari ke bawah tribun VIP menyelamatkan diri.

Kerusuhan pun pecah, pembakaran bendera dan spanduk tidak ter-elakkan. Beberapa fasilitas juga tidak luput kena amukan Bonek Mania tersebut.

Dan tidak hanya di dalam, diluar stadion pun ternyata lebih parah dan mengenaskan. Perkantoran yang berada di depan Stadion pun habis ditimpuki batu oleh Bonek Mania, termasuk kantor Pemda PSSI Jatim.

Buntut dari kejadian inipun membuat Bonek tidak bisa mendampingi Persebaya dalam laga tandang selama 6 pertandingan.

Baca Juga: 10 SSB Terbaik Sepak Bola Indonesia

Sebab Terjadinya Kerusuhan dalam Sepak Bola

Ada banyak faktor yang menyebabkan kerusuhan Sepak bola terjadi. Semuanya adalah apresiasi kekecewaan atas hasil dari sebuah pertandingan. Namun ternyata tidak semua kerusuhan disebabkan dari kekecewaan saja. Berikut penjabaran jelasnya.

Faktor Kekalahan

Kekalahan bisa menjadi pemicu kerusuhan Sepak bola dikarenakan kekalahan ini menyebabkan kekecewaan yang amat mendalam bagi suporter yang mendukung tim kesayangannya.

Sebenarnya kekalahan ini juga berdampak bagi manajemen klub baik internal maupun eksternal.

Internal bisa berupa kepercayaan manajemen kepada pelatih dan pemainnya yang menyebabkan pemutusan kontrak. Atau bahkan di eksternal klub tidak lagi mendapatkan kepercayaan dari investor dan juga dari suporter yang bisa membuat stadion tidak penuh.

Tentunya kekalahan ini akan menjadi hal yang berpengaruh terjadinya kerusuhan Sepak bola. Sebut saja kerusuhan Persebaya vs Arema dan Persita vs PSMS merupakan kerusuhan yang disebabkan oleh kekalahan.

Usia Suporter Relatif Muda

Walaupun tidak semua pendukung Sepak bola berusia muda, namun kebanyakan suporter-suporter fanatik yang ada di Indonesia merupakan remaja berusia sekitar 15 sampai 20-an tahun.

Faktor usia muda yang mudah terpancing emosi inilah yang bisa menjadi faktor kerusuhan yang terjadi di dunia Sepak bola. Terkadang hanya masalah sepele saja para suporter muda ini tersulut emosinya dan memancing keributan.

Pendidikan Rendah

Mungkin kamu berfikiran ini sebab yang kurang masuk akal. Akan tetapi bisa saja pendidikan rendah ini menjadi faktor terjadinya kerusuhan sepabola.

Orang dengan pendidikan rendah sangat mudah terprovokasi. Jalan fikirannya tidak bisa berfikir panjang dan menimbang dampak atas perbuatannya.

Orang yang berpendidikan rendah cenderung melakukan segalanya begitu saja, untuk resiko dia fikir belakangan.

Walaupun belum ada penelitian terkait hal ini, namun kalau kita perhatikan banyak suporter bola Indonesia yang lulusan SD, SMP, atau SMA. Namun sekali lagi, ini bukanlah faktor dominan yang menjadi sebab kerusuhan Sepak bola. Masih ada dua faktor diatas yang sangat memungkinkan menjadi sebab kerusuhan Sepak bola.

Saling Ejek

Ini juga bisa menjadi penyebab terjadinya kerusuhan di dunia sepakbola. Saling ejek antar suporter bisa memicu konflik pada kedua suporter. Lagu-lagu ejekan yang ditujukan kepada suporter lawan akan memprovokasi tim lawan untuk berbuat kerusuhan.

Akhir Kata

Kerusuhan dan pertikaian merupakan hal-hal yang harus kita hindari. Karena Sepak bola yang kita kenal harusnya menyajikan tontonan yang menarik bukan tontonan saling lempar, saling pukul, dan hal anarkis lainnya.

Kita sebagai suporter yang bijak harus bisa menahan diri kita untuk tidak berbuat kerusuhan. Sesama suporter juga tidak boleh saling ejek satu sama lainnya.

Lebih baik damai dan tenteram dalam menonton Sepak bola. Lantangkan suaramu untuk mendukung tim kesayanganmu bukan untuk menjelek-jelekkan tim lain.

Mulailah bijak dari sekarang, fikirkan semua yang akan kamu lakukan, dan jangan mudah terprovokasi oleh orang lain. Sekian dari olahraganesi mudah-mudah bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang dunia Sepak bola. Salam Olahraga!


Kembali Ke Olahraganesia